images

Ma’ Ning, begitulah sebutan untuk penjual kolak pisang yang cukup enak dan ramai pembeli di bulan Ramadhan khususnya. Usianya sudah sangat tua, mungkin sekitar 70 tahunan, tapi dengan wajah yang selalu ceria, semangat wirausaha, dan senyuman di wajahnya selalu membuat dia lebih muda dibandingkan orang seumurannya. Aku dan Ma’ Ning satu desa, hanya memang beda kampung. Dia tinggal sendiri di rumahnya yang kondisi bangunannya pun cukup tua, bangunan setengah batubata setengah triplek tersebut masih kokoh menemani Ma’ Ning walaupun mungkin sebenarnya sudah tidak layak huni.

Salah satu hal yang membuatku menyukai Ma’ Ning adalah dia selalu membagikan sisa dagangannya kalau memang jualannya tidak habis terjual sampai sebelum Isya kepada anak-anak kecil yang ada di sekitar jualan atau sekitar lokasi rumahnya tersebut. Tidak heran kalau rumahnya tersebut tiap menjelang Isya selalu banyak anak-anak yang diam dan tersenyum lebar menunggu “jatah” dari dagangan Ma’ Ning tersebut. Aku pun salah satuya, hehehehehe….

Tapi ada satu hal unik yang selalu kuperhatikan dari dulu saat Ma’ Ning selesai membagikan sisa dagangannya kepada anak-anak yang ada, beliau selalu menyisakan 4 bungkus kolak pisang untuk dirinya sendiri. Walaupun ada beberapa teman saya yang belum dapat “jatah”, beliau hanya berkata sambi tersenyum “Maaf ya dek, kolaknya sudah habis, datang lagi aja besok”, besoknya pun pasti beliau mengatakan hal serupa jika kondisinya masih sama seperti itu. Begitu seterusnya tiap bulan Ramadhan.

“Ma’ Ning, emang kolaknya mau di makan lagi buat sahur ya? koq selalu di sisain 4 bungkus buat Ma’ sendiri?” tanyaku heran setelah semua teman-temanku pergi meninggalkan lokasi dagangan Ma’ Ning dengan bungkusan kolak di tangannya masing-masing. Aku sendiri sengaja tidak langsung pulang untuk mencoba mendapatkan jawaban dari rasa penasaranku itu.

Sambil membereskan dagangannya, dia seolah kaget akan keberadaanku yang masih ada di dekatnya, kemudian  dia hanya tersenyum dan menjawab “…tergantung nak”

“emang Ma’ Ning ngga kekenyangan ya makan sebanyak itu?”

“…tergantung nak”

“Ma’ Ning masak nasi juga kan?”

“…tergantung nak”

“emang tergantung apa sih Ma’ ?”

Dia terdiam sejenak dan  kemudian  menatapku sambil tersenyum

“tergantung, apakah tiga anak Emak pulang ke rumah atau tidak, Emak udah janji sama anak-anak Emak itu beberapa belas tahun  yang lalu. Mereka minta kolak pisang buatan  Emak sendiri sudah tersedia di rumah ini unuk makan bersama-sama lagi saat mereka pulang nanti, dan  mereka janji akan  pulang saat bulan  Ramadhan ataupun saat lebaran. Makanya Emak sisakan 4 bungkus ini untuk kami makan  bersama. Kalau mereka belum sempat datang sampai akhir waktu sahur, kolaknya akan  Emak habiskn  semuanya dan Emak akan  membuatkan  yang baru lagi untuk mereka buka puasa saat mereka pulang kerumah nanti, karena Emak yakin  mereka akan pulang, mereka hanya sedikit sibuk saja dengan  pekerjaan  dan  keluarganya di kota”

Aku hanya bisa terdiam mendengarnnya, yang kutahu selama ini Mak’ Ning selalu sendiri.

“Mak’ , aku bantu bereskan dagangannya ya, nanti kita berangkat shalat tarawih bareng ya Mak'”

Mak’ Ning hanya tersenyum, menambah jelas kerutan di wajahnya sore itu.

banner-BC#21