Pemahaman

 

 

 

Malam ini aku belum bisa berhenti sejenak untuk beristirahat dan menghilangkan segala kepenatan yang tersimpan dari dalam fikiranku ini. Jarum jam menunjukkan pukul 01.45. Semua kepenatan ini seakan semakin membuatku menjadi besar kepala,,tapi bukan berarti sombong,,,,,ya,besar kepala dalam hal ini dalam arti sebenarnya, maklum semenit yang lalu kepalaku tertimpa kayu lemari yang sudah lapuk sehingga mengakibatkan diameter kepalaku sedikit berubah.

Disamping ‘pebengkakan’ kepala, kepalaku ini penuh dengan masalah kehidupan dari berbagai macam kenangan akan masa lalu, permasalahan sekarang, dan kekhawatiran akan masa depan. Semua fikiran tersebut dapat membuatku merasa  tidak ada lagi ruang dikepalaku ini untuk berfikir sesuatu hal yang menyenangkan. Sekian lama aku hidup dalam kesemrawutan dunia ini,,,15 tahun telah aku lewati. Rasanya cepat sekali waktu ini berlalu dan sangat tidak terasa sekali bagiku saat dimana aku dapat menikmati kehidupanku sebelumnya. Semua orang yang kukenal selama ini, rasanya tidak punya beban sama sekali dan mereka tenang menghadapi segala masalah yang dihadapi oleh mereka sendiri,,,hmmm,,,mungkin mereka memilki ketenangan dalam lingkungan keluarga. Sedangkan aku rasanya tak ada lagi yang membuatku betah dalam rumah ini,,,aku merasa seperti anak tiri…padahal aku asli anak kandung bapak ibuku dari 3 bersaudara….

Sudah sebulan berlalu semenjak aku mulai memasuki lingkungan sekolah menengah umum. Seragam putih abu yang dulu aku idam-idamkan sekarang kurang bermakna lagi. Hal ini berawal dari saat aku tidak lolos kualifikasi di salah satu SMK swasta yang bermutu tempat kakakku sekarang sekolah, di Karawang, Jawa Barat. Tinggi badanku ini yang menjadi batu sandunganku dan yang menjadikan aku lulus masuk salah satu SMU Negeri di Cikampek, namun begitu sekolah ku yang sekarang aku jalani ini adalah yang no 1 di Cikampek,,,ya karena memang baru hanya ada satu SMU negeri di Cikampek ini. Yang membuat aku merasa tersisihkan yaitu aku kurang terkesan kurang mampu untuk dapat membahagiakan kedua orangtuaku itu. Sepertinya orangtuaku lebih senang ke kakakku yang masuk SMK karena dengan begitu setidaknya dapat meneruskan usaha bapakku yang kebetulan adalah wiraswasta dalam hal perbengkelan.

Sekarang aku disini, dipojok gelap kamarku sendiri, penuh gambar yang tertempel didinding yang aku buat sendiri, dengan cat dinding yang kuhias sendiri untuk kamarku ini, niatnya artistik tapi akhirnya menjadi aneh karena perpaduan warnanya kurang begitu menarik dan malah jadi bahan tertawaan kakak dan adikku itu, namun setidaknya aku merasa bahwa warna dinding kamarku ini mencerminkan keadaan si pengecatnya, yaitu aku sendiri….

Sendiri di kamar dengan mendengarkan lagu Adam Song dari Blink 182,,,dan yang terlintas dalam fikiranku sekarang adalah,,,,,,,uang…………………

…………….

…………….

 

###

“Hoaaaaaaaaahhh….”

….Pagi yang membosankan…..hari senin…..alarm jam dari tape-ku berbunyi tanda bahwa waktu telah menunjukkan pukul 05.00…

Akhirnya pagi tadi aku bisa terlelap juga,,,setelah melewati berbagai macam konflik dalam fikiran ini dan setelah jarum jam melewati pukul tiga pagi……

Badan ini terasa berat untuk bergerak ke kamar mandi dan tidak hanya itu, mataku juga rasanya seperti terisolasi dengan baik….

Aku berusaha sekeras mungkin untuk membuka mataku,,,,,

Mata kananku mulai terbuka……sedikit,,,,,,sedikit,,,,,

Aha, akhirnya aku bisa melihat jarum jam…..jam lima lewat tujuh menit….

Tanggung fikirku,,,,aku akan bangun jam lima lewat lima belas menit saja……hanya 8 menit,,, lumayan kalau tidak dimanfaatkan….

…1 menit…..

…2 menit……

…………………..

……………………..

…………………….….

Astaga !!!! jam enam lewat dua puluh menit?!!!!!

Gila !!!! ga ada yang bangunkan tidurku ini !!! kufikir hanya  berdurasi 8 menit, namun kenyataan berkata lain! Mmmmm,,,,,sebantar aku hitung dulu…1jam 60 menit, berarti….. 73 menit aku habiskan tanpa terduga dipagi ini !!! plus  1 menit untuk menghitung keterlambatanku di pagi hari !

Eh tapi sebenarnya kejadian seperti ini bukan hal yang pertama kali buatku. Dulu saja pernah sampai tertidur berjam-jam hanya dengan mengucapkan ‘satu menit lagi’ pada saat mau bangun tidur di pagi hari……dan anehnya hal itu terus dilakukan dan dialami lagi….dan lagi……

Segera aku bergegas menuju kamar mandi, begitu membuka pintu kamar yang tak terkunci, terlihat bapakku sedang menonton berita di televisi sambil memakan sarapannya pagi itu. Tanpa pedulikan wajahnya yang terlihat kecewa  padaku itu, aku terus berlari menuju kamar mandi.

“lagi-lagi bangun jam segini ! makanya jadi orang itu jangan dimanjain mulu maunya !”

Terdengar suara ibuku yang kebetulan dia sedang berada di dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi. Ibuku ini memang senang sekali menyalahkan dan jarang sekali atau bahkan hampir di bilang tidak pernah untuk memberikan solusi.

“manja gimana bu, wajar dong kesiangan, ga ada yang bangunin galang!” Aku menjawabnya di dalam kamar mandi.

“emangnya kakak dan adik kamu itu dibangunin juga?! Mereka aja bisa bangun tidur sendiri tanpa dibangunin!”

“tapi kan ga ada salahnya bangunin orang yang masih tidur?! Ibu juga pasti tau kan kalau selain mereka berdua ada satu anak lagi yang masih terlelap di atas tempat tidurnya?!”

“…..”

“….”

Tak terdengar lagi sahutan ibuku, mungkin dia sudah beranjak pergi dari dapur, atau mungkin juga ibuku malas berdebat denganku pada jam-jam seperti ini.

Aku terus membasahi badanku dengan air dan sepertinya tangan-tanganku sudah terlatih untuk bergerak cepat di saat seperti ini…….satu hal yang ada dalam fikiranku sekarang……aku kembali tidak melakukan shalat subuh….

 

####

 

Aku sudah berada di tempat pemberhentian angkutan kota (angkot) yang biasa mengangkut para pasukan kebebasan dengan berseragam putih abu  yang menurutku mereka sedang menuju pengkekang kebebasan dan pembunuh kreatifitas dan imajinasinya, yaitu SMU yang sebenarnya menjadi tempat dimana aku berada nantinya selama 3 tahun kedepan….itupun kalau aku bisa menjalaninya dan lolos selama 3 tahun tersebut….ya…ya…ya…aku juga bisa menyadari potensi yang ada pada diriku ini.

Walaupun orang lain berkata bahwa aku orang yang beruntung, tapi aku tidak mengakuinya. Aku selalu berkata dalam hati bahwa ini bukan sebuah keberuntunganku, melainkan memang kerja kerasku!!!. Kenapa semuaya berkata bahwa aku ini beruntung?! Padahal aku ini sanggup !!!

Hhhhhhh,,,,semakin waktu berjalan, semakin banyak siswa-siswa SMU yang menungggu angkot dan berbaur dengan para karyawan yang sepertinya sibuk menggunakan alat kosmetik yang dibawa oleh para perempuan, sedangkan para lelaki sibuk memperlihatkan handphone baru, sepatu baru, motor baru, dan pacar barunya kepada teman-temannya. Hey sepertinya laki-laki itu kemarin memperlihatkan wanita yang berbeda dengan hari ini?! Ah peduli apa aku ini, toh wanitannya juga ga peduli denganku.

“Bos, bagi duit dong seceng aje..buat beli rokok nih…..”

Suara cowok dengan pakaian kumal dan bau alkohol itu terdengar serak dan jelas ditelingaku ini walaupun jaraknya agak jauh denganku beberapa meter tepat disebelah kananku. Cowok itu berbicara dengan seorang anak yang dari pakaiannya sih sepertinya masih SMP.

Putih biru, warna yang telah melekat denganku selama tiga tahun, bahkan sampai sekarangpun aku masih mengenakan pakaian putih biru ini, seragam putih abu-ku belum aku terima dari sekolah, sudah 1 bulan lamanya. Padahal aku bisa saja memesan pakaian seragam putih abu diluaran atau di tukang jahit, tapi entah kenapa sekolah ku yang baru ini malah meminta semua siswa baru memakai seragam putih biru dahulu sebelum seragam resmi SMA di bagikan dari pihak sekolah…mungkin agar semuanya seragam kali ya?! Aku benci keseragaman…eh, jangan-jangan anak smp itu juga sebenarnya telah masuk SMA sama sepertiku?!

Kacamata yang agak longgar dengan rambut ikal yang agak pirang dan sedikit jerawat di daerah pipi. Baju rapi dimasukan kedalam celana pendek berwarna biru diatas dengkul, sabuk hitam besar dan tas besar yang digendongnya…hemf…culun amat….wajar aja kalau dia ditegor preman pagi pagi begini..hehehehe…..ups…

Siswa SMP tersebut sepertinya ketakutan, terlihat dari sikapnya yang mulai kikuk dan sesekali dia membenarkan kacamatanya dan menyapu keringatnya yang sebenarnya tidak terlihat sama sekali olehku apakah emang benar dia berkeringat atau tidak.

“Ma…ma…maaf bang ga punya uang…” dia mulai berbicara.

“alaaaah,,,masa’ anak sekolah ga punya duit sih?! Cepetan bagi dikit…”

“Beneran bang ga ada, ini juga buat bayar ongkos doang…” anak itu bicar a sambil berjalan cepat melewatiku dan langsung masuk ke angkot yang memang kebetulan sekali lewat  di saat dia dalam keadaan kritis.

“heh, lo jangan ngeloyor begitu aja dong HEH !!! SETAn lo ya ! HEH SETAN !!!! SINI LO!!!!”

Siswa SMP itu beerjalan tepat melintas didepanku sebelumnya dan langsung naik angkot yang sudah penuh dan sedang jalan pelan-pelan tersebut tanpa mempedulikan teriakan sang preman yang sekarang malah berada tepat disampingku. Sial……

“HEH BAGI GUA DUIT ! CEPETAN !!!”

Bagai menemukan air dipadang pasir, aku langsung pergi meninggalkan ‘orang gila’ tersebut dan langsung naik angkot yang baru datang dan kosong.

“PLAK !!!”

“ADUH”,

Preman itu memukulku dengan tangannya, sepertinya dia mengincar kepalaku. Untung yang dia pukul malah tas gendongku yang ga jelas dalamnya apa, karena belum aku check isinya 2 minggu terkhir ini.

Aku langsung naik angkot setelah berebutan dengan penumpang dan siswa lain yang kebetulan dari tadi ikut menunggu angkot yang kosong ini. Aku dapat duduk dipaling pojok dekat jendela kaca belakang dan di dalam mobil aku bisa melihat preman tadi mengibas-ngibaskan tangannya layaknya orang kepanasan,,,atau kesakitan?! Hehehehe….rasain tuh ! dan sepertinya tidak hanya aku saja yang mencak-mencak, terlihat mulut sang preman komat-kamit juga mengucapkan sumpah serapah. Haha

Kejadian tersebut sepertinya jadi perhatian para penunggu angkot lain juga deh, soalnya merekapun sekilas melihat ku dan sekilas juga melihat preman tadi. Haha, bagaimana tidak, wong teriakan berbau alkohol itu sangat kencang mengalahkan klakson mobil yang dibunyikan oleh pengemudi yang ga sabar nunggu antrian dalam kemacetan lalulintas pagi di kota kecil bernama Cikampek ini…tapi toh semuanya tetap saja tak mengambil tindakan apapun untuk menolongku kalau terjadi apa-apa dengan preman kampung itu, semuanya hanya bisa melihat atau mungkin ngeloyor pergi menjauhiku yang ‘teraniaya’.

Aku sudah cukup enek dengan tindakan kriminalitas seperti pemalakan tersebut, bagaimana tidak, dulu waktu SMP aku sering sekali dipalak, bahkan sepertinya jadi hobi tukang palak jika melihat diriku ini. Bahkan seorang cewe yang tomboy pun bisa dan berhasil memaksaku untuk mengeluarkan uang seribu rupiah dengan berlingang air mata ! menyedihkan?! Itu dulu,,,sekarang aku tidak lemah seperti itu, aku belajar banyak hal dan banyak yang mengajariku tentang hal yang sewajarnya dilakukan dan tidak dilakuakan ke orang lain. Ya, banyak teman-teman SMP ku yang mengajariku banyak hal tentang hidup ini yang akhirnya aku menjadi semakin mengerti akan sedikit arti hidup ini dan bagaiman amenyikapinya dengan baik. Thanks all my friends.

Sekolah SMP ku itu terletak dipojok pasar sederhana yang becek walau kemarau tiba, jadi tidak aneh kalau waktu dulu aku sering dipalak karena senin sampai sabtu aku melewati daerah rawan, pasar dan terminal ! Perjuangan yang panjang dan menegangkan untuk mendapatkan ilmu……Sejak kelas dua SMP aku mulai berfikir kalau daya kreatifitasku ini  ternyata dikekang oleh peraturan sekolah, aku tidak boleh menyanyi dikelas waktu jam pelajaran, tidak boleh corat-coret gambar-gambar aneh di dinding saat mengecat kembali ruang kelas, dan tidak boleh…..tidak boleh kerjasama waktu mengerjakan tugas. Bukankah itu mematahkan daya kreatifitas?!

Padahal dengan menyanyi aku dapat mengingat dan menyerap pelajaran dengan baik, lagipula aku menyanyi dengan suara kecil kok. Dengan corat coret aku dapat mengekspresikan perasaanku, siapa tau  aku bisa menjadi pelukis nantinya kan?! Aneh,,,kenapa ga disediakan aja sih dinding untuk dicorat-coret kalau mencorat-coret dinding sembarangan itu tidak diperbolehkan?! Untuk hal kerjasama, bukankah didunia kerja juga nantinya dibutuhkan sikap kerjasama?! Jadi kenapa tidak dilatih bekerjasama saat sekolah ini?!

Hhhhh,,,,,tapi sepertinya aku juga harus berfikir di pihak sekolah…ya mungkin banyak hal-hal baik yang sebenarnya terpendam dalam setiap peraturan dan larangan yang ada disekolah tersebut. Well, setidaknya sekarang aku sudak meninggalkan masa SMP-ku, sekarang saatnya masa SMA-ku yang berjalan dan akan kulalui selama 3 tahun kedepan. Semoga memang benar 3 tahun, aku ga mau kalau harus ga lulus sekolah nanti. Menyeramkan kalau harus terkekang di sekolah lebih dari 3 tahun.3 tahunpun sudah cukup lama bagiku.

Tanpa sadar angkot yang kutumpangi ini telah berada di depan gerbang SMA ’tercinta’. Para serdadu putih abu  dan sedikit putih biru yang belum dapat seragam SMA nya berkerumun dan banyak juga yang berlari-lari kecil. Hahahaha,,,banyak juga yang terlambat, jangan-jangan mereka juga banyak berfikir dan begadang seperti diriku. Haha, untung bukan hari senin. Hari ini hari selasa, tepat jam pelajaran pertama yaitu,,,,,matematika !

Hah,,,hah,,,hah,,, akhirnya aku sampai juga dikelas yang selalu gaduh dari hari pertama, tapi hari ini lain, tak seperti biasanya, lebih gaduh dan ramai, karena semuanya pada sibuk mencontek PR minggu lalu. Ada yang panik, berkeringat, bahkan sampai alat tulis yang digunakan patah. Jam 7 lewat 35 menit tapi guruku ini belum datang, tugas yang diberikan cukup banyak, sampai 4 halaman polio bergaris sepertinya, soalnya aku melihat sampai ada yang kebingungan mencari tahu soal mana yang belum terjawab.

”Ada yang bisa gw liat jadwal soalnya?”

…..

…..

Sial, tak ada yang menanggapi pertanyaanku,,,,jadi males ngerjain tugasnya….ya udahlah, aku trima nasib aja deh.

”Nih, gw dah selesai”  rojul teman SD n SMP ku menyodorkan kertas jawabannya yang memang terlihat penuh. Aku jadi terharu,,,,

thanks jul, tapi kok cuma sedikit jawabannya, yang lain mah ada yang mpe 2 lembar kertas polio bergaris?”

”ah itu mah mereka aja yang pengen keliatan pinter, udah percaya deh jawabannya pasti betul yang punya gw. Dah gw singkat kok dan gw juga nyontek ke orang itu tuh, namanya,,,,,ah lupa. Udah, pokoknya contek aja deh, tajam dan terpercaya dah”

”Ok” memang baik dan pengertian temanku ini,,,,eh,,,,,aku lupa,,,,tulisannya ga terbaca sama sekali,,,,,bahkan aku sering salah mengartikan tulisan yang dia buat. Ini angka 4 ato 9 ya? Ini 6 atao G? Ini 2 ato 7? Ahhhhh malah jadi pusing aku liatnya….

Sementara rojul sibuk jalan2, aku ambil punya temen yang lain dan mulai kerja keras mencontek tanpa perasaan.Hahahaha,,,,sorry jul kertas jawaban lo jadi alas. Hehehehe,,,

***

 

Inilah kelasku, kelas penuh dengan makhluk yang berbeda-beda dan dengan permasalahan yang sama juga tak kalah pentingnya adalah warna kulit yang berbeda. Aku duduk di barisan yang kedua, kolom kedua mendatar dari tempat duduk guru dan siapa sangka, ternyata aku dan rojul adalah lelaki yang duduk di depan dan dikelilingi para wanita, atau libih tepatnya adalah kami jejaka yang tersesat di sekumpulan bidadari yang tak satupun dari mereka melirik keberadaan kami yang ganteng-ganteng ini. Cukup menyedihkan memang bagi rojul, karena dia sengaja aku tarik untuk duduk disampingku di posisi seperti ini. Tak ada lagi teman yang aku kenal di kelas ini kecuali rojul, semuanya makhluk yang baru bagiku, dan kenapa aku memilih tempat duduk disini adalah karena memang aku terbiasa berada di posisi terdepan seperti ini,yaaa dengan alasan biar lebih paham apa yang guru lontarkan, tapi sebenarnya agar tidak menjadi pusat perhatian guru, soalnya yang aku rasa duduk di belakang malah akan menjadi perhatian guru. Tapi,,,,sepertinya dengan posisi laki-laki diantara para perempuan justru akan menambah posisi kami terlihat mencolok dibandingkan yang lainnya.

Umurku memang termasuk yang termuda di kelas, tapi tubuhku ini bukan lagi yang terkecil di kelas, bersyukur sekali ternyata ada yang bertubuh lebih ‘imut’ dibandingkan aku. Hehehehe setidaknya aku berbahagia karena sepertinya bukan aku lagi yang akan jadi bahan ledekan tiap saat karena tubuhnya paling kecil di kelas.

“lang, gw ga betah duduk disini” ucapan rojul buat aku berhenti tersenyum sesaat.

“terus mau pindah kmana lagi? Mau pindah ke bangku guru? Udah tau ga ada lagi bangku kosong di kelas ini…”

“ah lo sih maksa-maksa duduk disini, kan udah disaranin biar duduk di belakang dari awalnya”

“ ya elah jul, tenang aja sih, lo pasti dapet contekan dari aku dah tiap hari”

“mo ngasih contekan gimana, tadi aja lo yang nyontek ke gw..”

“yeeee baru juga kejadian sekali seumur hidup aja lo dah bangga” aku ga berani untuk nyebutin kalau tadi ga jadi nyontek buku tugasnya, takutnya dia merasa kecewa dengan kebanggaannya karena udah lebih dulu mengerjakan tugas lebih dulu dibandingkan aku sendiri.

Aku memang dilahirkan dengan kecerdasan yang cukup merata, saking ratanya sampai-sampai ga pernah menjadi juara kelas sampai saat ini…ya cukup middle lah, ga goblok juga, tapi pinter mah iya. Selama ini juga aku yang menjadii pusat contekan buat rojul, tapi ga tau rojul cuman jadi korban aku atau bukan, yang jelas dia cukup berbahagia dengan setiap contekan yang aku kasih. Hahahahai.

“tapi kok gw heran ya, kok nilai gw ma nilai lo beda ya?! Lo nyontek dari gw bukan sih, kok nilai lo kecil sih??” Rojul menunjuk nilai merah yang tertera di buku tugasku. Ya, sial emang, aku salah nyontek, yang aku contek sih wajahnya pinterrrrrrrr benerrrrrrrr, gagah, tajam, dan terpercaya, tapi ternyata inilah kenapa kata nenek aku klo tidak semua yang berkulit bagus itu isinya baik, terbukti di contekan kali ini. Angka empat nongol d buku tugas aku. Memalukan, ya walupun ga ada orang yang mengenal aku dengan baik dan aku ga terlalu peduli dengan ilai, tpi klo udah menyangkut bagian dimana buku aku di acung-acungin sama itu guru di depan semua orang di kelas, siapa yang ngga gerah dan pengen ngasah golok coba tuk bunuh diri?!

“tau tuh jul, gw nyontek di si Indra, tapi anehnya dia kok Cuma gw yang dapet nilai empat ya?!”

“Indra yang badannya tinggi dan agak putih itu ya?” nunjuk co dengan tubuh yang lumayan gagah dan bersih, dan celana biru yang berada di atas lutut.

“iya”

“ya sudahlah, Cuma tugas biasa aja ini, lagipula kayaknya ga terlalu jadi perhiungan, Cuma pretest doang untuk mengukur tingkat kemampuan matematika kita” Rojul mencoba menenangkan.

“ya justru karena untuk mengukurnya itu, makanya terlihat bego banget kan gw”

“lha emang bego kan kenyataannya?”

“sial” Aku membanting piulpen yang ada di tanganku ke kepalanya. Tambah sial lagi saat itu pulpen malah lari ke persis depan kaki guru yang ternyata dari tadi asik mengamati ku.

 

###