Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa Pembangun insan cendikia

Setiap orang yang pernah duduk di bangku sekolah pasti kenal dengan lirik tersebut, karena lirik tersebut pasti dikenalkan di tiap sekolah dasar, khususnya pada pelajaran kesenian. Lirik tersebut adalah Hymne Guru ciptaan Sartono. Hymne guru ini pasti akan berkumandang setiap tanggal 25 November, karena pada tanggal tersebut diperingati sebagai hari Guru nasional.

Hari Guru ini diawali dari terbentuknya organisasi bernama PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Saat itu proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan titik kulminasi (titik balik) perjuangan bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita nasionalnya. Semangat proklamasi itulah yang menjiwai penyelenggaraan kongres pendidik bangsa Indonesia pada tanggal 24-25 November 1945 bertempat disekolah guru puteri (SGP) Surakarta, Jawa Tengah. Dari kongres itu lahirlah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) diantara pendirinya yaitu Rh. Koesnan, Amin Singgih, Ali Marsaban, Djajeng Soegianto, Soemidi Adisasmito, Abdullah Noerbambang, dan Soetono. Melalui kongres ini, sagala bentuk perpecahan antara kelompok guru yang didasarkan kepada perbedaan tamatan (ijazah) dilingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, aliran politik, agama dan suku, sepakat untuk dihapuskan. Mereka serentak bersatu untuk mengisi kemerdekaan dengan tiga (3) tujuan, yaitu :

  1. Mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia.
  2. Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan.
  3. Membela hak dan nasib buruh umumnya, guru pada khususnya.

Penghargaan sepenuh hati dan abadi untuk para guruku

PGRI adalah organisasi pejuang yang lahir dalam proses sejarah dimasa perjuangan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. PGRI adalah wahana pejuang, pembangun bangsa, pembimbing putera, pembangun jiwa dan pencipta kekuatan Negara. Begitulah jiwa dan makna PGRI yang diungkap dalam “ Mars PGRI” yang sepenuhnya cocok dengan kenyataan. PGRI Pada Masa Perang Kemerdekaan (1945-1949), asas yang tercantum dalam anggaran dasar pendirian PGRI adalah “ kedaulatan rakyat “ dangan tujuan seperti disebutkan terdahulu. Dilihat dari tujuannya sangat jelas bahwa cita-cita PGRI sangat sejalan dengan cita-cita bangsa Indonesia secara keseluruhan. Para guru munginginkan kebebasan dan kemerdekaan, memacu kecerdasan bangsa serta memperjuangkan kesejahteraan anggotanya.

Apabila kita melihat sejarahnya, semangat pendidik saat itu sangat perlu di hargai. Mereka berjuang untuk memacu kecerdasan bangsa demi sebuah perubahan dan mengusungkan kemerdekaan untuk kemajuan bangsa Indonesia ini. Mereka tak pernah mengeluh untuk tetap berusaha memberikan wawasan dan pengetahuan yang sangat berguna kepada tiap peserta didiknya. Selalu berusaha dan bersyukur dengan apa yang mereka dapatkan. Unsur keikhlasan dalam mendidik dan semangat perubahan yang membuat mereka tetap bertahan dan tetap memberikan pembelajaran yang baik untuk masa depan bangsa yang lebih baik lagi saat itu. Saat itu posisi atau profesi sebagai guru kurang begitu diminati karena penghargaan yang mereka terima tak sesuai dengan apa yang mereka berikan, sampai akhirnya jumlah pendidik (guru) saat itu boleh dikatakan kurang. Namun perlu disadari oleh kita, sesungguhnya dengan keadaan seperti itu, mereka (guru) masih bisa memberikan yang terbaik pada peserta didiknya dan selalu mengutamakan masa depan peserta didiknya tersebut. Walau memang saya tak berada pada zaman tersebut, tapi setidaknya rasa penghargaan dan rasa salut terhadap sosok seorang guru masih bisa saya rasakan dari cerita sejarah tersebut dari orang tua saya sendiri.

Kondisi yang terlihat sekarang ini adalah jumlah guru lebih banyak dibandingkan 66 tahun yang lalu, kondisinya lebih ‘nyaman’ dibandingkan 66 tahun yang lalu, posisinya lebih banyak diminati dibandingkan dulu, namun sejatinya ternyata jumlah guru yang mempunyai sikap ‘guru sejati’ seperti tahun 1945 dulu tak jauh berbeda dengan sekarang. Hanya sedikit guru yang ternyata memikirkan dan mementingkan masa depan peserta didik dan masa depan bangsa ini. Dengan banyaknya penghargaan dan kesejahteraan guru yang didapat sekarang ini (yang boleh dikatakan sangat jauh berbeda dengan zaman dulu), masih banyak guru yang lebih mementingkan nasib dirinya sendiri, kurang begitu peduli dengan perkembangan bangsa yang dilihat dari pembentukan karakter dari peserta didiknya, transfer ilmu yang diberikan cukup sekedar ‘gugur kewajiban’ saja dibandingkan pemahaman yang lebih mendalam, sibuk memikirkan pendapat orang lain terhadap dirinya, dan sibuk mengkritik orang lain (pemimpin bangsa) tanpa begitu memperdulikan bibit-bibitnya sendiri yang bakal menjadi ‘pengemudi’ bangsa ini.

Sikap kritis yang dimiliki oleh para guru saya akui memang bagus, karena saya yakin sikap kritis kita (sebagai guru) pun pasti untuk kebaikan bangsa ini. Namun bukan berarti malah membuat mereka lupa akan mendidik cikal bakal pemimpin bangsa selanjutnya. Bangsa ini kedepannya ditentukan oleh para peserta didik, lantas kenapa kita tidak fokus saja pada apa yang seharusnya kita berikan. Kalau memang bangsa ini sudah terpuruk dan banyak pemimpin yang tidak benar dalam memperhatikan kesejahteraan bangsa ini, maka janganlah kita berlarut-larut mengkritik dan mengeluhkan itu semua, langkah yang seharusnya diambil adalah bagaimana agar hal-hal negatif tersebut tidak sampai terjadi pada generasi peserta didik kita. Kita adalah pendidik, tugas kita adalah mendidik, bukan mengkritik. Berikan contoh dan berikan solusi yang baik dan pemahaman yang baik pada peserta didik kita, itu yang terpenting. Bukan hanya sibuk mengkritik para pemimpin, mementingkan nasib diri sendiri,  dan sibuk akan pencitraan diri. Bukan guru dengan jumlah yang banyak seperti itu yang diinginkan oleh bangsa ini. Kuantitas guru sebaiknya diiringi dengan kualitas guru itu sendiri. Jangan sampai alasan mengapa jadi guru itu dijawab dengan jawaban ‘daripada ga dapet kerja‘, ‘yaa lumayan buat menunggu kerjaan yang sesungguhnya saya inginkan‘, ‘dapet gaji gede dengan kerja yang ga lumayan capek‘, ‘lumayan dapet peluang untuk mendapatkan sertifikasi guru‘, atau bahkan ‘kan enak, dapet kebebasan waktu dengan penghasilan yang lumayan gede‘.

Ketika kita memilih jadi guru dan akhirnya memang menjadi seorang guru, maka seharusnya kita sudah tahu konsekuensi apa yang akan kita perolah dan tanggungjawab yang kita tanggung. Saat kita menuntut sesuatu, maka sebaiknya apa yang kita tuntut itu memang sudah sesuai dengan apa yang telah kita berikan. Apakah sertifikasi yang ingin dan telah diperoleh sesuai dengan apa yang kita berikan kepada bangsa? apakah gaji yang kita terima dan yang kita inginkan sesuai dengan apa yang kita berikan kepada bangsa? apakah kesejahteraan yang kita tunut dan yang telah kita terima sesuai dengan apa yang kita berikan kepada bangsa? apakah dengan adanya tulisan ini membuat kita menjadi berusaha untuk memperbaiki diri atau malah sibuk memikirkan dan mengkritisi hal-hal yang tak sesuai dengan diri kita sendiri? semua pilihan tergantung dengan pemikiran kita sendiri. Apakah kita sudah cocok menjadi seorang guru? mari kita fikirkan dan coba bercermin pada diri sendiri. Bercermin dengan kenyataan yang ada saat ini.

Saya juga bukanlah seorang guru yang sangat baik, bahkan jauh dari kata layak (mungkin ini juga yang membuat saya ingin mengundurkan diri jadi guru😀 ), namun saya berharap semoga kita menjadi seorang guru, pendidik, ataupun orangtua yang semakin bijak menyikapi permasalahan hidup ini.

Tulisan ini kupersembahkan untuk para guru di Indonesia dan khususnya untuk diriku sendiri, semoga guru Indonesia semakin cerdas dalam membina dan mendidik para calon pemimpin bangsa menuju Indonesia yang lebih baik. Serius akan profesinya dan bertanggungjawab penuh terhadap kewajibannya, serta memahami betul tugas yang diterimanya

Selamat hari guru.