Tadi malam (23 November 2011) terjadi pemutusan arus listrik di sekitar tempat tinggal yang ternyata dari informasi yang didapat, hal itu diakibatkan dari kejadian kebakaran yang lokasinya tak jauh dari rumah. Kebakaran yang terjadi itu berlokasi di sebuat pusat perbelanjaan kota yang rencananya memang akan dipugar untuk kepentingan pihak tertentu, dan wacana ini memang berlangsung sudah cukup lama, terlebih memang sudah di bangun sebuah gedung pusat perbelanjaan baru yang lapak atau kios – kiosnya masih kosong di daerah dekat pusat perbelanjaan yang terbakar tersebut. Sebuah pemikiran dan desas – desus tentang kenapa pusat perbelanjaan tersebut terbakar mulai bermunculan, dari berfikiran positif sampai dengan (memang) menuduh salah satu pihak yang seakan-akan kejadian kebakaran ini disengaja. Disini saya akan sedikit berbagi fikiran yang bukan mencari tau penyebab kebakaran itu terjadi, melainkan sikap masyarakat yang saya lihat akan kejadian tersebut dan bahkan membuat saya melihat kembali kejadian-kejadian dalam keseharian sebelum tragedi kebakaran tadi malam tersebut.

Apabila kita amati dengan baik (termasuk sikap kita sendiri) setiap kejadian yang terjadi di sekitar, kita ternyata lebih suka melihat dan sibuk membicarakan tanpa ada tindakan apa yang sebaiknya dilakukan untuk menyelesaikan sebuah masalah atau kejadian tersebut. Contoh kecil saja, apabila terjadi sebuah kecelakaaan, maka masyarakat yang ada di sekitar lokasi kecelakaan tersebut pasti datang berduyun-duyun ‘hanya’ datang untuk melihat dan malah membicarakan tentang kesalahan kejadian tersebut, bukan menolong atau membantu korban kecelakaan tersebut, bahkan mungkin malah bisa menyebabkan sebuah kemacetan (akibat dari sikap ‘ingin tahu’ bukan sikap ‘harus bagaimana’). Hanya sebagian kecil saja ikut membantu dan menolong serta turut memikirkan agar hal tersebut tidak terulang kembali.

Terkadang kita tidak sadar bahwa sikap ‘ingin tahu’ itu sendiri mengganggu orang lain, entah itu korbanya sendiri atau pun orang lain yang ada disekitarnya. Kemacetan yang terjadi misalnya, jelas sekali mengganggu pemakai jalan yang lainnya yang mungkin saat itu dia sedang memiliki urusan sangat penting, sampai akhirnya harus terhambat oleh kemacetan yang terjadi akibat hanya sebuah rasa ‘ingin tahu’.

Ingin mengetahui proses sebuah kejadian adalah sebuah hal yang wajar dan memang sebaiknya dimiliki, hanya saja bentuk aplikasi dari sikap ‘ingin tahu’ itu sendir yang harus diperhatikan, jangan sampai kita mengganggu kegiatan orang lain atau bahkan hanya cukup menonton saja. Pernahkah kita berperan sebagai korban tersebut? pernahkah kita ‘hanya’ ditonton oleh orang-orang yang datang tersebut? bagaimana rasanya? menyenangkan? pasti jawabannya tidak. Kita pasti merasa risih dengan kehadiran banyak orang yang hanya melihat kita (sebagai korban) tanpa ada sedikitpun bantuan yang mereka berikan. hanya melihat kemudian membicarakan kita seakan-akan kita adalah sebuah tontonan yang menarik. Kalau kita sadari, apa yang kita lihat merupakan sebuah kejadian yang siapa tahu hal tersebut suatu saat terjadi pada diri kita sendiri. Korban bukan tontonan karena korban bukanlah makhluk asing yang aneh yang patut ditonton, korban perlu bantuan kita, bukan hanya tatapan dan kata-kata kita tentang kejadian yang terjadi.

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, rasa ingin tahu itu bagus, hanya saja yang perlu diperhatikan adalah bagaimana sikap yang harus kita lakukan saat kita tahu ada sebuah kejadian disekitar kita. Beberapa pemikiran saya ini mungkin bisa sedikit membantu, walaupun saya tahu bahwa kita sebenarnya sudah mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan.

  • Apabila kita berada di dekat lokasi kejadian, sebaiknya kita langsung menolong korban, entah dia seorang penjahat atau bukan karena dalam berbuat baik tidak perlu sebuah alasan.
  • Apabila kita berada jauh dari lokasi kejadian dan tidak memungkinkan untuk langsung membantu, maka alangkah baiknya jika kita cukup mendoakan sebuah kebaikan untuk si korban, tanpa kita harus datang untuk ‘meramaikan tontonan’.
  • Apabila kita ingin mengetahui kejadian yang terjadi secara langsung, maka datanglah ke lokasi kejadian, elihat situasi yang terjadi dan langsung turut serta membantu. Apabila tidak ada yang bisa kita bantu, maka kita berdoa untuk korban dan tidak diam dilokasi kejadian.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat dipahami dengan baik, yang paling penting adalah semoga kita semua bisa memahami  dan perasaan dan apa yang dirasakan oleh orang lain. Karena saat kita bicara bahwa orang lain egois, maka sebenarnya diri kita sendirilah yang egois. Bercermin pada diri sendiri dan apakah kita memang telah bijak dalam bersikap, kita lihat dan rasakan dari posisi orang yang kita sikapi.